SIGLI, ACEH – Perguruan Tinggi Islam (PTI) Yayasan Al Hilal Sigli menjadi lokasi terakhir pelaksanaan Program Tagana Masuk Sekolah (TMS) yang digagas Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana (PSKB) Kementerian Sosial Republik Indonesia di Provinsi Aceh. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (4/7/2026) tersebut sekaligus menandai tuntasnya pelaksanaan program di enam titik kabupaten/kota di Aceh.
Program yang menjadi salah satu unggulan Kementerian Sosial RI ini diikuti sekitar 100 mahasiswa dari berbagai program studi dan dipusatkan di Aula PTI Al Hilal Sigli. Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai mitigasi bencana, peningkatan kapasitas kerelawanan, serta penguatan peran perguruan tinggi dalam membangun budaya Kampus Peduli Bencana.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang kebencanaan, tetapi juga membentuk generasi muda yang memiliki kepedulian sosial, kemampuan mitigasi, dan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai potensi bencana di lingkungan masing-masing.
Kedatangan Tim Person In Charge (PIC) Direktorat PSKB Kementerian Sosial RI disambut langsung oleh Wakil Ketua PTI Yayasan Al Hilal, H. T. Sabirin, S.H., M.M., mewakili Ketua Yayasan H. Abdullah Ali, M.Pd. Turut hadir Ketua I Bidang Akademik STIT Al Hilal Fuad, S.Pd.I., M.A., Ketua III Bidang Kemahasiswaan STI Al Hilal sekaligus Ketua ORARI Pidie Drs. H. Hafiah, M.Pd., serta Ketua III Bidang Kemahasiswaan STIT Al Hilal Mustafa, M.A.
Dalam arahannya, H. T. Sabirin menegaskan bahwa program yang diinisiasi Kementerian Sosial RI tersebut harus menjadi gerakan nyata yang berkelanjutan dan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.
“Edukasi kebencanaan harus terus ditanamkan kepada generasi muda. Mitigasi, peningkatan kapasitas, dan kesadaran masyarakat merupakan fondasi penting dalam membangun budaya sadar bencana. Karena itu, kami menyambut baik dan mengapresiasi program ini sebagai langkah strategis dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan kebencanaan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, organisasi sosial, relawan, dan masyarakat dalam menciptakan komunitas yang tangguh menghadapi berbagai ancaman bencana. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kemampuan menjadi relawan kebencanaan.
Melalui Program Tagana Masuk Sekolah, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen edukasi di tengah masyarakat sekaligus relawan yang siap berkontribusi dalam upaya penanggulangan bencana.
Pelaksanaan TMS di enam kabupaten/kota di Aceh menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, relawan kebencanaan, pemerintah, dan masyarakat. Program ini juga menjadi bagian dari rangkaian pengukuhan resmi Kampung Siaga Bencana (KSB) Mutiara Siaga Pidie, sebagai upaya meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana di Kabupaten Pidie.
Dengan berakhirnya rangkaian Program Tagana Masuk Sekolah di Aceh, diharapkan semakin banyak lahir generasi muda yang memiliki kesadaran, kepedulian, dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, sehingga mampu menjadi garda terdepan dalam membangun masyarakat yang tangguh dan berdaya



























